Social Icons

Jumat, 14 November 2014

ERA BARU KEPEMIMPINAN UNIK, SEDERHANA DAN CEPAT

OLEH : DR.H.SUHARDI DUKA, MM




Siput dalam menempuh 400 meter butuh waktu 37 jam. F1 hanya membutuhkan waktu 9 detik. Sudah bukan waktunya membicarakan visi, tapi seberapa cepat kita mencapainya. Tetaplah menjadi orang cerdas dan baik, karena orang baik itu tidak dipandang apa statusnya. Tapi pemikiran dan tindakannya.

Gaya kepemimpinan yang meledak-ledak memarahi staf dalam rapat, marah di lapangan dengan suara keras serta memukul meja dan menunjuk-nunjuk muka staf di tempat sidak dan di blow up oleh media diunggah di youtube. Seakan jadi model kepempinan pejabat publik saat ini.

Dilain sisi, Walikota Solo dengan mobil Esemka dan Gubernur DKI dengan blusukan dan turun lansung di got hanya mengenakan kemeja putih yang digulung, begitu mendapat simpati public yang sangat tinggi dan tak terbendung oleh koalisi merah putih untuk mengantarkannya jadi Presiden RI ke7.  Jokowi dan JK.

Pasangan Jokowi dan JK adalah pasangan yang saling melengkapi dan unik. JK sebagai saudagar Bugis yang sukses dan pengalaman yang segudang. Memberi warna kepemimpinan Indonesia dengan tagline “lebih cepat lebih baik”.

Muhammad Yusuf Kalla, adalah manusia praktis, lurus dan cepat mengambil keputusan. Adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak orang.
Setiap pemimpin, baik nasional dan lokal, saat ini diuji dengan rujukan seperti di atas. Gaya yang serba formal, penuh pertimbangan dan bertele-tele telah menjadi bagian masa lalu. Publik menghendaki praktis, tidak formal dan turun lansung. Marah di depan umum tidak lagi menjadi tabu. Justru model seperti itu mendapat simpati di ruang publik.

Khalid Gibrani Pernah menulis, “kalau kautemukan seorang budak tertidur dan bermimpi tentang kebebasan, biarkan dia tetap dalam tidurnya”. Orang kedua mengatakan sebaliknya, “bangunkan dia agar dia tahu kenyataan hidup yang dihadapinya”.

Ada banyak golongan yang bagaikan siput berjalan sangat lamban untuk menuju kesejahteraan dan bahkan hamper putus asa untuk mencapai tujuannya. Tapi ada pula golongan begitu cepat menyesuaikan dengan perubahan dan menangkap setiap peluang dari pedati ekonomi global saat ini.

Munculnya kelas ekonomi menengah baru dan masuknya Indonesia menjadi anggota G20 dan semakin kuatnya pengaruh Indonesia di kawasan memberi bukti bahwa Indonesia semakin baik. 

Persoalan kita adalah jurang antara kelas menengah ke atas dengan kelas bawah terlalulebar.  Tidak adil distribusi sumber daya alam dan ekonomi antar warga.
Diperlukan kepemimpinan yang lebih berpihak dan lebih cepat dalam mengambil keputusan. Saat ini kita harus bangun dari tidur untuk bias menangkap peluang siapa yang cepat itu yang lebih baik.

Pernah saya bertanya kepada warga saya, “saat pemilihan Kepala Desa kenapa kau memilih dia ? Jawabnya,” saya pilih dia karena dia lemah, agar nanti Kepala Desa tidak seenaknya memerintah dan suruh membayar pajak macammacam………
Jawaban yang saya dapat ini tidak membuat saya optimis akan kuatnya kepemimpinan di Desa. Rakyat rela memilih yang lemah agar tidak memberatkan dalam kepemimpinannya.

Jokowi tidak lemah, hanya rakyat melihatnya lemah lembut. Mungkin disinilah letak kekuatan, sehingga terpilih bersama dengan Jusuf Kalla. Kelembutan itulah juga agar rakyat tidak diberatkan dengan berbagai tambahan Pajak dan menarik subsidi. Termasuk memberatkan dengan kenaikan BBM.

Pandangan saya, semoga distribusi sumber daya alam dan ekonomi semakin berpihak ke bawah. Dari kebijakan presiden, baru kita. Agar tercipta keadilan ekonomi dalam masyarakat. Ambil dari kalangan atas untuk kepentingan ekonomi kelas bawah. Demikian juga daerah agar dapat disempitkan perbedaannya Daerah Kaya dan Daerah Miskin. Agar pembiayaan daerah lebih adil.

Masyarakat lokal banyak berharap terhadap APBD di daerah. Dana daerah memang mencukupi dan bahkan lebih karena APBDnya triliunan rupiah. Tapi ada juga daerah yang APBDnya hanya cukup untuk menggaji PNS. Daerah seperti ini tidak banyak yang bias dilakukan.

Seperti halnya 6 kabupaten di Sulbar, jumlah APBDnya tergolong kelas kecil. Potensi sumber daya alam kita belum member kontribusi terhadap pendapatan. Karena itu diperlukan kepemimpinan yang lebih kuat dan komitmen. Lerelerekan adalah wilayah yang telah produktif. Sayangnya tidak diketahui sejauhmana perjuangan untuk mendapatkan provite share.

Kepemimpinan yang lebih friendly dan lebih bergaul dengan semua kalangan, serta memiliki komitmen yang kuat tidak cepat berubah-ubah. Sangat dibutuhkan hadir di tengah kita. Saya meyakini bahwa era baru kepemimpinan Indonesia akan membawa perubahan serta akan berpengaruh dengan gaya kepemimpinan lokal pada akhirnya. Era protokoler dan pengamanan yang ketat bagi gaya kepemimpinan akan ditinggalkan di masa datang.
Dr.suhardi duka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar