Social Icons

Kamis, 02 April 2015

PDAM-TM MAMUJU GELAR PELEPASAN PURNA BHAKTI

Laporan : Muhammad Nur OKT,

Foto : Muhammad Nur OKT

Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Manakarra Mamuju Selasa tanggal 31 Maret 2015, dengan mengambil tempat di Aula Pertemuan Kantor PDAM-TM  Kabupaten Mamuju  gelar acara pelepasan 2 (dua ) Orang Kariyawan yang telah memasuki masa Pensiun  masing-masing H. Abd. Hamid, SPDI, Jabatan terakhir di PDAM-TM Kabupaten Mamuju sebagai Kepala Seksi Langganan dan Pa Tanan TP jabatan terakhir Kepala Seksi Produksi.

Dalam kata sambutannya Direktur PDAM Tirta Manakarra Mamuju Muh. Nur, SE mengatakan bahwa " Dua orang Kariyawan, atau saudara kita ini yaitu Pa H. Hamid dan Pa Tanan telah memasuki masa Purna Bhakti sebagaimana diatur dalam Peraturan Perundang-undangan yang berlaku bagi Perusahaan daerah Air Minum yaitu setelah kariyawan mencpai masa kerja 25 sampai 30 tahun atau telah mencapai usia 56 Tahun, kedua teman kita ini telah berkarya di PDAM - TM Kabupaten Mamuju sejak 1982 dan tepat hari ini mereka telah mengakhiri masa tugasnya setelah 32 tahun berkarya di PDAM  "  tegasnya.

Pa Tanan dan H. Hamid

" Sesungguhnya kedua rekan kita ini telah bekerja dengan baik dan telah menunjukkan dedikasi yang tinggi, sesungguhnya tenaga mereka masih dibutuhkan di PDAM-TM Kabupaten Mamuju namun apa hendak dikata ada peraturan yang mengikat kita, peraturan yang mengatur tentang masa pensiun, walau begitu bila mereka merasa masih mampu dan mau bekerja,  kita akan memberikan kesempatan itu walau sudah tidak masuk lagi dalam struktur Organisasi Perusahaan  " ungkap Muh. Nur,Se.

Dalam bagian lain sambutannya Direktur PDAM-TM Kabupaten Mamuju menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada 2 ( dua ) Purna Bhkti tersebut, dan menyampaikan permohonan maaf baik atas nama pribadi dan keluarga maupun keluarga besar PDAM-TM Kabupaten Mmamuju " Kami mohon maaf bila ada hal-hal yang kurang berkenan selama kita bersama di PDAM-TM Mamuju, dan tetaplah menjadi bahagian dari kami " Ungkap Muh. Nur, Se

Kariyawan PDAM TM Mamuju

Acara pelepasan Purna Bhakti PDAM-TM Kabupaten Mamuju yang digelar secara sederhana itu dihadiri oleh Dewan Pengawas dan seluruh kariyawan-kariyawati PDAM-TM Kabupaten Mamuju , dalam acara pelepasan tersebut kedua Purna Bhakti masing-masing menerima Motor Roda Dua dari Perusahaan disamping mendapatkan kendaraan Roda Dua kedua Purna Bhakti juga menerima uang pesangon dan uang jasa pengabdian yang jumlahnya bervariasi antara puluhan juta rupaih hingga ratusan juta Rupiah ***

Senin, 30 Maret 2015

MENUJU PERUBAHAN

OLEH : Dr. H. SUHARDI DUKA, MM

Banyak pihak yang bicara tentang konsep perubahan, ataupun reformasi birokrasi. Tapi tak banyak yang sungguh-sungguh melakukannya. Bahkan tidak memahami cara untuk menerapkannya.

Semakin buruk mata rantai tata kelola pemerintahan, semakin terbuka pula peluang melakukan penyimpangan, kongkalikong, pungli, dan korupsi. Imbasnya, keterlambatan layanan publik menjadi bagian dari serial kolosal perjalanan birokrasi di Indonesia.

Idealnya, seorang pemimpin adalah sekaligus sosok yang memimpin perubahan. Karena kunci dari semua perbaikan tata kelola dan reformasi birokrasi ada pada kepiawaian sang pemimpin.

Telah banyak kisah perubahan dan kemajuan mengungkap dari usaha luar biasa yang dilakukan oleh sosok pemimpin. Mereka bergerak di mana saja, baik di pusat kekuasaan, lembaga swasta, maupun di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ini merupakan dalil sahih bahwa kemajuan yang terjadi di masyarakat tidak terlepas dari campur tangan sang pemimpin. Perbaikan birokrasi di daerah banyak dihasilkan oleh pemimpin daerah saat ini.

Lee Kwan Yeu, adalah bukti konkrit betapa kuatnya pola kepemimpinan yang diterapkan saat menjabat sebagai perdana menteri di Singapura. Beliau memiliki 3 cara berpikir efektif. Yaitu "Think Ahead" mampu berpikir ke depan dan antisipatif; "think again" pemimpin yang mampu mengkaji ulang hasil pemikirannya; dan think across”, kemampuan berpikir secara lateral, horisontal serta lintas disiplin.

Ketiga cara berpikir di atas mestilah dimiliki oleh seorang pemimpin yang akan membawa perubahan. Tidak justru sebaliknya, bekerja secara reguler dan normal alias apa adanya.

Seorang pemimpin sepatutnya mampu melipatgandakan cara kerjanya agar mendapatkan hasil yang berlipat ganda pula. Dan Lee Kwan Yeu tahu kondisi Singapura. Ia paham betul bahwa persaingan kawasan Asean ke depan tak sekadar untuk posisi tawar Singapura yang harus diantisipasi sebagai satu negara kecil. Tapi juga untuk bertindak sebagai pengendali ekonomi di Asean.

Demikian halnya atas keputusan bergabung ke salah satu negara bagian di Malaysia, yang pada akhirnya berpikir kembali untuk melepaskan diri dari Malaysia. Semua itu telah diperaktekkan oleh perdana menteri Lee Kwan Yeu.

Beliau juga sangat tahu akan kepentingan negara-negara tetangga serta kondisi dalam negara yang Multi Etnik, serta Lintas Agama. Atas kematiannya bukan hanya rakyat dan etnis Mandarin yang menangisi. Tapi juga Melayu dan etnis India Arab ikut bersedih atas kepergiannya.

Kita bisa mencontoh beliau akan kegigihannya. Bahwa pemimpin di daerah harus bertanggung jawab atas nasib generasi mendatang. Agar mampu menghadirkan kondisi masa depan yang lebih gemilang. Tentu, takkan terasa jika hasil yang dicapai dengan ukuran evolusi. Seperti halnya tumbuhnya sebuah batang kayu di halaman rumah, sulit terlihat perubahan itu berlangsung setiap hari.

Roda kepemimpinan harus sanggup membuktikan bahwa nasib masyarakat tertinggal harus dipercepat persamaan situasinya dengan masyarakat yang telah awal mengalami kemajuan peradaban.

Perhatikanlah potret Mamuju 10 tahun silam. Jelas sekali bahwa Mamuju merupakan satu daerah yang tertinggal di Sulsel. Hanya Selayar yang setara kala itu.

Tapi bagaimana dengan saat ini? Saya tak sedang jumawa. Tapi indikator dan ukurannya jauh telah meninggalkan potret 10 tahun silam itu. Bahkan Mamuju kini telah dinobatkan sebagai daerah yang tak tertinggal lagi.

Dengan demikian, cetak biru atas fakta empirik ini adalah bahwa cara berpikir ke depan dan antisipatif itu tercermin pada kemampuan mengkaji suatu situasi yang akan dihadapi. Serta kemampuan untuk dapat masuk dan mengendalikan kebijakan itu.

Tidak terlalu sulit mengubahnya, walau kondisinya serba terbatas. Tapi kesungguhan dan tingkat pemahaman akan masalah yang dihadapi serta konsistensi untuk tak pernah berhenti belajar, mesti menjadi keniscayaan. Walhasil, kita pun dapat melakukan perubahan itu. (SDK)

Kritik dan saran:
sdk.suhardi@gmail.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®