Social Icons

Senin, 02 Februari 2015

KALENDER 1998

OLEH : DR. H. SUHARDI DUKA,MM





Tahun 1998 silam, rezim orde baru jatuh setelah berkuasa selama kurang lebih 33 tahun. Di tangan Pak Harto, sistem kekuasaan terpusat. Termasuk hukum, militer dan ekonomi, seluruhnya dikendalikan olehg mekanisme sentalistik yang dibangunnya.

Jika ditilik alasan yang mendasari keruntuhan orde baru, tentu karena praktek korupsi dan nepotisme telah merajai hampir seluruh level pemerintahanj kala itu. Sehingga menimbulkan kesenjangan dan ketimpangan pendapatan dalam masyarakat. Serta tidak terpenuhinya hak-hak rakyat akibat tidak adanya demokrasi dan kebebasan serta kepastian hukum.

Dilihat dari tahapannya, keruntuhan orde baru bermula dari krisis ekonomi, kemudian berlanjut ke krisis moneter. Neraca perdagangan Indonesia waktu itu mulai mengalami defisit akibat utang luar negeri yang sulit dibayar. Juga karena cadangan devisa habis. Dampaknya, kondisi ini melemahkan nilai tukar rupiah dan inflasi yang tinggi.

Bak gayung bersambut, Krisis politik turut mengamini persoalan ekonomi secara beruntun. Hal ini ditandai dengan berbaliknya arah dukungan partai pendukung Pemerintah yang mayoritas di parlemen saat itu. Posisi tawar Politik Pak Harto kian melemah, dialog politik menjadi buntu dan tidak memiliki jalan keluar. Hingga pada puncaknya, parlemen meminta Pak Harto mundur.

Di samping itu, tahun 1998 juga menjadi tahun yang amat terasa bahwa politik telah menjadi panglima di atas kepastian hukum. Rakyat tidak taat lagi dengan hukum dan bahkan bertindak sendiri dengan melakukan Penjarahan di kota-kota besar.

Kondisi tersebut terus menguatkan publik untuk tak lagi menaruh kepercayaan kepada pemerintah. Publik tak lagi mempercayai pemerintah, dan tokoh formal gerakan massa tak lagi terkendali. Maka terjadilah gerakan sosial yang semakin hari semakin memuncak. Inilah yang disebut sebagai people power. Bahwa Kekuatan rakyat secara mayoritas telah bergerak untuk menurunkan Pemerintah. Dengan melihat itu semua, Pak Harto sebagai seorang negarawan akhirnya memilih mundur demi untuk Indonesia dan masa depannya.

Selanjutnya, pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga tak kalah peliknya. Mantan Ketua PBNU ini mundur setelah dimundurkan oleh DPR. Mengapa? Karena Gus Dur melakukan dua tindakan yang tak lazim; Menyebut DPR ibarat taman Kanak-Kanak, dan membubarkan DPR melalui dekrit yang diterbitkannya.

Pertanyaannya, ada apa dengan kalender 1998? Sesungguhnya ini tidak prinsip, kendati kita pun harus tetap percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua itu ada yang mengaturnya. Jika secara cermat diperhatikan, Kalender 1998 persis sama dengan  kalender 2015. Baik hari dan penanggalannya tidak ada yang berbeda. Anggaplah kita sedang menggunakan asumsi numerologi.

Ini artinya perlu kehati-hatian. Persoalan KPK VS POLRI sebaiknya jangan dilihat sebagai sesuatu yang sederhana. Dua institusi ini adalah pilar negara yang sangat dibutuhkan. Saya tak bisa membayangkan kalau polisi mogok sehari saja? Sedangkan polisi kerja 24 jam masih macet dimana mana, pencurian dan penganiayaan masih jalan. Termasuk bank masih ada yang dirampok serta teroris yang terus menjalarkan kanal pergerakannya.

Demikian pun KPK, galak seperti saat ini pun masih banyak orang korupsi. Apalagi jika sampai KPK bubar. Saya tidak bisa membayangkan bagaiamana massa gerakan anti korupsi akan bergerak termasuk mahasiswa.

Di sinilah diuji kematangan seorang pemimpin. Hampir semua kalangan dan tokoh bahkan bekas kompetitor pun telah datang menemuinya. Di sinilah sesungguhnya dilihat mana yang asli kawan atau hanya kepentingan.

Pandangan saya, kepada Bapak Presiden Jokowi, dalam menyelesaikan permasalahan ini, sebaiknya merunut mulai dari awal dan titik beratnya adalah pada kepentingan Rakyat, bukan elite dan parpol. Apa kata BJ Habibie? Hukum itu harus objektif tapi subjektif terhadap kepentingan rakyat. Pernyataan ini sangat berbeda dengan kata mantan-mantan pengacara itu yang sering muncul di TV saat ini.

Pemerintah  saat ini harus segera kembali pada tugas pokoknya yaitu pembangunan ekonomi dan revolusi mental. Angka pertumbuhan ekonomi yang dipatok 2015 adalah angka yang tak memberi harapan besar; 5,7 persen. Angka ini hanya cukup menutup  angka Inflasi yang dipatok, 5 persen.

Kalau kinerja ekonomi baik akibat beban subsidi tak ada lagi, dan momentum rendahnya harga minyak dunia, maka sesungguhnya Indonesia bisa tumbuh di atas 6 persen. Beban Impor BBM dapat dimanfaatkan untuk mendorong ekspor dengan memberikan kebijakan agar daya saing bahan ekspor kita meningkat, target swasembada beras dalam 3 tahun bisa dicapai, Dolog kembali diberdayakan dan pembangunan infrastruktur dipercepat.

Dari empat tahapan jatuhnya orde baru di atas, sampai saat ini kondisi Indonesia belum ada di tahapan itu. Karenanya kita berdoa, semoga semua selamat dan berakhir damai. SAVE POLRI SAVE KPK. (SDK)



Kritik dan saran:

sdk.suhardi@gmail.com

----------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar